Dicintai Allah
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
QS. Al-Baqarah: 222
Halaman Judul
Dari Titik Nol Menuju Ampunan dan Hidayah-Nya
Karya Maulana Amratulloh
Edisi pembaruan dari Jalan Tobat dan Raih Ampunan
Hak cipta © 2026 Maulana Amratulloh. Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apa pun tanpa izin tertulis dari penulis dan penerbit, kecuali kutipan singkat untuk keperluan dakwah, pendidikan, dan resensi dengan menyebutkan sumbernya.
Pembuka
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi Allah, Dzat yang pintu ampunan-Nya tidak pernah dikunci selama matahari belum terbit dari barat. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh umatnya yang terus berjuang memperbaiki diri.
Buku ini adalah edisi pembaruan dari Jalan Tobat dan Raih Ampunan. Isinya kami susun ulang agar mengalir seperti sebuah perjalanan pulang: berangkat dari titik nol ketika hati mulai rindu kepada Allah, lalu memperbarui ikrar syahadat, meluruskan niat, berani berhijrah, mempraktikkan tobat langkah demi langkah, hingga menjaga istiqamah lewat doa-doa harian.
Mengapa judulnya Tobat Yuk, Pasti Untung!? Karena Allah sendiri yang menjanjikannya: “Bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung” (QS. An-Nur: 31). Tobat bukan cerita tentang orang yang kalah. Tobat adalah keputusan paling cerdas seorang hamba: menukar dosa dengan ampunan, keburukan dengan kebaikan, dan gelisah dengan tenang.
Supaya terasa ringan dan dekat dengan keseharian, perjalanan ini ditemani tiga tokoh komik: Untung (pemuda perantauan yang galau karena terlanjur jauh dari iman), Ida (gadis muda yang hatinya hampa dan awalnya belum berhijab dengan alasan “tunggu dapat hidayah dulu”), serta Ustadz Nur (pembimbing bijak yang sabar menuntun mereka pulang). Bisa jadi kisah Untung dan Ida adalah cermin perjalanan hati kita sendiri.
Semoga Allah menerima tobat penulis, pembaca, dan siapa pun yang ikut menyebarkan kebaikan buku ini. Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Kabupaten Bogor, Jumadil Awal 1448 H / Oktober 2026
Maulana Amratulloh
Peta Perjalanan
Sebelum Berangkat
Pemuda perantauan yang lelah mengejar dunia. Hatinya galau dan tak pernah tenteram karena merasa sudah terlanjur jauh dari Allah dan iman.
Gadis muda yang tampak ceria di luar namun hampa di dalam. Awalnya belum berhijab dengan alasan “tunggu dapat hidayah dulu, yang penting hatinya baik.”
Sosok guru yang hangat, sabar, dan tidak menghakimi. Menuntun Untung dan Ida kembali menemukan damai dalam tobat dan ketaatan.
Prolog: Dua Hati yang Galau & Alasan 'Belum Dapat Hidayah'
Di tengah gemerlap lampu kota, dua sahabat masa kecil—Untung dan Ida—duduk merenung usai pulang kerja. Di luar mereka tampak baik-baik saja, namun batin keduanya gersang.
UntungDa… jujur deh. Namaku sih Untung, tapi kok hati rasanya buntung terus ya? Gaji habis, nongkrong sudah, hiburan penuh, tapi tiap malam dada ini sesak, gelisah, dan nggak pernah merasa tenteram.
IdaSama, Tung… Aku juga sering nangis sendiri kalau malam. Rasanya hidupku kosong dan nggak ada damainya. Mungkin karena kita sudah terlanjur jauh banget dari Allah dan iman kali ya…
UntungApa kita coba ikut pengajian di masjid dekat sini dan mulai bertobat ya, Ida? Sekalian kamu mulai belajar berhijab gitu…
IdaIh, kalau soal berhijab nanti dulu deh, Tung! Aku kan belum dapat hidayah! Lagian aku belum siap, takut dibilang munafik sama teman-teman. Kan yang penting hatinya dulu dihijabi, nggak usah buru-buru bungkus luarnya!
Langkah mereka terhenti di depan serambi masjid. Ustadz Nur yang baru selesai merapikan mushaf menyapa keduanya dengan senyum menyejukkan.
Ustadz NurAssalamu‘alaikum, Nak Untung, Nak Ida. Masuklah, jangan sungkan. Rasa galau dan tidak tenteram saat jauh dari Allah itu sebenarnya surat cinta dari langit—tanda bahwa fitrah iman di hati kalian sedang rindu pulang.
Ustadz NurDan untuk Nak Ida… hidayah itu seperti cahaya matahari pagi. Cahayanya sudah Allah pancarkan untuk semua hamba-Nya, tetapi kalau kita terus mengunci pintu dan menutup jendela sambil berkata “belum dapat cahaya”, sampai kapan pun kamar hati kita akan tetap gelap.
IdaYa Allah… kalimat Ustadz barusan menembus tepat ke ulu hatiku. Jadi selama ini bukan Allah yang belum memberi hidayah, tapi aku sendiri yang menutup pintunya?
UntungKalau begitu, izinkan kami berdua belajar dari titik nol ya, Ustadz! Kami lelah hidup gelisah jauh dari Allah… kami ingin pulang!
Buku ini dibagi menjadi enam bagian yang tersusun seperti anak tangga. Bacalah berurutan bila ini perjalanan pertamamu, atau lompat langsung ke bab yang kamu butuhkan lewat tombol Daftar Isi di bagian atas layar. Di sepanjang buku, kamu akan menjumpai beberapa jenis kotak:
Ayat Al-Qur’an beserta terjemahnya.
Hadis Rasulullah ﷺ dan sumber riwayatnya.
Nasihat ulama dan mutiara kata untuk direnungkan.
Langkah praktis yang bisa langsung kamu kerjakan hari ini.
Bagian Satu
Saat hati ingin pulang
Titik nol bukan tempat orang kalah. Di sanalah orang beruntung memulai langkah pertamanya.
Bab 1
Ajal tidak pernah menunggu tobatmu. Maka jangan biarkan tobatmu menunggu ajal.
Tobat Sebelum Telat: Menunggu Siap atau Menunggu Kain Kafan?
Tobat dan jaga shalat? Nanti sajalah kalau sudah mapan… kan masih muda.
Pakai hijab dan tinggalkan pergaulan bebas? Nanti aja kalau sudah menikah dan hati sudah 100% siap…
Malam itu ponsel Untung dan Ida bergetar bersamaan. Kabar duka di grup sekolah: Rina, teman sebaya mereka yang kemarin masih sehat dan ceria, wafat mendadak dalam perjalanan pulang.
UntungInnalillahi… Rina seumuran dengan kita, Da! Kemarin dia masih bilang mau ikut pengajian bulan depan…
IdaYa Allah, tanganku gemetar, Tung… Selama ini aku selalu bilang “tunggu siap, tunggu dapat hidayah baru berhijab”. Bagaimana kalau ternyata kain kafan yang menjadi hijab pertamaku?!
IdaUstadz Nur… hati saya takut sekali. Kami sudah terlanjur jauh dari Allah, shalat sering lalai, aurat belum tertutup. Masih maukah Allah menerima kami yang kotor ini?
Ustadz NurAjal memang tidak pernah menunggu kata “nanti” atau “tunggu siap”, Nak. Namun kabar gembiranya: selama nyawa belum sampai di kerongkongan, pintu ampunan Allah terbuka lebar detik ini juga!
Ustadz NurJangan tunggu merasa suci baru mendekat kepada Allah—mendekatlah kepada Allah agar Dia menyucikan dan menenteramkan hati kalian.
Setiap orang pernah tersesat. Ada yang tersesat jauh, ada yang hanya sedikit berbelok. Kabar gembiranya, selama napas belum sampai di kerongkongan, jalan pulang masih terbuka lebar.
إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima tobat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di kerongkongan.”
HR. At-Tirmidzi (hasan)
Masalahnya, tidak seorang pun tahu kapan nyawanya sampai di sana. Karena itu Al-Qur’an tidak hanya menyuruh kita bertobat. Al-Qur’an menyuruh kita bergegas.
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
“Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan menuju surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
QS. Ali ‘Imran: 133
Setan jarang berkata “jangan bertobat”. Ia lebih suka berbisik dengan kalimat yang terdengar masuk akal. Kenali tiga bisikan ini, lalu patahkan dengan jawabannya.
Bisikan 1“Nanti saja, masih muda.”
Ajal tidak memilih usia. Banyak yang dipanggil saat muda, dan tidak ada yang dijamin sampai tua. Hari ini adalah usia termuda yang tersisa untukmu.
Bisikan 2“Dosaku terlalu besar, mana mungkin diampuni.”
Ampunan Allah jauh lebih luas daripada dosa sebesar apa pun. Dengarkan sendiri panggilan-Nya kepada hamba-hamba yang telah melampaui batas.
Bisikan 3“Percuma, nanti juga terulang.”
Setiap anak Adam pasti pernah salah, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang bertobat. Jatuh lagi? Bangun lagi. Tobat lagi.
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.’”
QS. Az-Zumar: 53
كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ، وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah mereka yang bertobat.”
HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah (hasan)
Bahkan Rasulullah ﷺ, manusia yang dijaga dari dosa, tidak pernah berhenti bertobat. Beliau bersabda:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ
“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya seratus kali dalam sehari.”
HR. Muslim
“Jika kau lihat seseorang yang berdosa, jangan kau ejek dia. Bisa jadi pendosa yang bertobat lebih dekat kepada Allah daripada orang yang sombong dengan ibadahnya.”
“Bukan soal siapa yang terbaik, tetapi siapa yang paling banyak berbuat baik.”
Mulai dari titik nol, sekarang juga:
Bab 2
Allah tidak hanya memerintahkan tobat. Dia menjanjikan keberuntungan bagi yang menjalankannya.
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.”
QS. An-Nur: 31
Kata tufliḥūn berasal dari al-falāḥ, yaitu keberuntungan yang menyeluruh di dunia dan di akhirat. Inilah alasan judul buku ini. Orang yang bertobat tidak sedang menyerah kalah. Ia sedang masuk ke barisan orang-orang yang beruntung.
Obat bagi Hati yang Galau: Mengapa Tobat Pasti Untung?
IdaUstadz, kenapa ya dulu waktu saya bebas mengikuti kemauan diri sendiri, bukannya bahagia tapi hati malah gampang cemas, overthinking, dan nggak pernah damai?
UntungIya, Ustadz. Saya pikir kalau ikut aturan agama hidup bakal terkekang dan rugi, tapi waktu hidup bebas pun batin saya malah tersiksa.
Ustadz NurKarena ruh manusia diciptakan oleh Allah, maka ia tidak akan pernah menemukan ketenteraman sejati kecuali saat kembali tersambung dengan Penciptanya, Nak.
Ustadz NurLihatlah janji Allah dalam QS. An-Nur: 31 dan Al-Furqan: 70. Saat kalian bertobat, bukan hanya dosa yang dihapus—catatan keburukan masa lalu kalian justru diganti oleh Allah menjadi pahala kebaikan, dan dada yang sempit dilapangkan!
UntungDosa masa lalu dihapus, diganti pahala kebaikan, ditambah ketenangan hati dan keberkahan rezeki?! Wah, Da, ini sih bukan cuma untung—ini untung berlipat ganda!
IdaMasyaallah… baru mendengar janjinya saja hatiku sudah mulai terasa hangat dan tenang!
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
QS. Al-Baqarah: 222
“Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
QS. Az-Zumar: 53
“…maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan.”
QS. Al-Furqan: 70
“Orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
HR. Ibnu Majah (hasan)
“Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu… niscaya Dia menurunkan hujan yang lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu.”
QS. Nuh: 10–12
Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya daripada musafir yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.
HR. Muslim
“…mudah-mudahan Tuhanmu menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
QS. At-Tahrim: 8
إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Kecuali orang-orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
QS. Al-Furqan: 70
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيُمْدِدْكُم بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَارًا
“Maka aku berkata, ‘Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.’”
QS. Nuh: 10–12
Rasulullah ﷺ pernah menggambarkan betapa gembiranya Allah menyambut hamba yang pulang kepada-Nya, lewat sebuah perumpamaan yang tak terlupakan.
Seorang musafir menyeberangi padang pasir tandus bersama untanya. Seluruh bekal makanan dan air minumnya berada di atas punggung unta itu.
Sang MusafirAlhamdulillah, selama bekal di punggung untaku aman, aku bisa selamat menyeberangi gurun ini.
Saat ia lengah, untanya terlepas dan lenyap ditelan cakrawala gurun! Ia mencarinya ke sana-kemari hingga kehabisan tenaga.
Habislah riwayatku… Tanpa air dan makanan di gurun ini, aku hanya tinggal menunggu ajal di bawah pohon ini…
Saat terbangun, untanya sudah berdiri di sampingnya!
“Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Tuhan-Mu!”
(salah ucap karena terlalu gembira)
“Sungguh Allah lebih gembira dengan tobat hamba-Nya ketika ia bertobat kepada-Nya daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang berada di atas untanya di padang yang tandus. Lalu untanya lepas, padahal makanan dan minumannya ada di atasnya. Ia pun putus asa, lalu mendatangi sebatang pohon dan berbaring di bawah naungannya. Ketika dalam keadaan demikian, tiba-tiba untanya telah berdiri di dekatnya. Ia pun memegang tali kekangnya, lalu berkata karena sangat gembiranya, ‘Ya Allah, Engkau hambaku dan aku Tuhan-Mu.’ Ia salah ucap karena terlalu gembira.”
HR. Muslim
Jika Allah menyambut tobat kita dengan kegembiraan sebesar itu, apa lagi yang membuat kita ragu untuk pulang?
Hitung untungmu. Ambil selembar kertas dan bagi menjadi dua kolom. Di kolom kiri, tulis satu kebiasaan buruk yang ingin kamu tinggalkan. Di kolom kanan, tulis satu kebaikan penggantinya. Itulah cara sederhana menghidupkan QS. Al-Furqan: 70 dalam keseharianmu.
Bagian Dua
Kembali ke janji pertama
Sebelum memperbaiki langkah, perbarui dulu janjimu kepada Allah.
Bab 3
Dua kalimat syahadat adalah janji pertama kita. Tobat berarti kembali menepatinya.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Asyhadu allā ilāha illallāh
“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah.”
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Wa asyhadu anna Muḥammadar rasūlullāh
“Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.”
Menyambung Kembali Iman yang Sempat Putus
IdaUstadz, selama ini di KTP kami tertulis Islam, tapi kenapa rasanya iman di dada kami tipis sekali sampai gampang terombang-ambing?
UntungIya, Ustadz. Syahadat yang kami ucapkan waktu shalat rasanya cuma lewat di tenggorokan, belum sanggup mengerem kaki kami dari maksiat.
Ustadz NurIman itu bisa aus seperti pakaian bila tidak pernah diperbarui, Nak. Karena itu langkah pertama kembali kepada Allah adalah memperbarui ikrar dua kalimat syahadat dengan kesadaran penuh di dalam hati.
Ustadz NurSaat kalian bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, kalian sedang menandatangani kembali perjanjian cinta: menyerahkan hidup, aturan berpakaian, dan tujuan hati hanya kepada Allah.
Untung & Ida“Ya Allah, niat hamba bersyahadat: Islamkan, imankan, ihsankan, istiqamahkan, takwakan, dan ikhlaskan hamba!”
Setelah bersyahadat, sertakan doa yang menjadi ruh buku ini:
“Ya Allah, niat hamba bersyahadat: Islamkan, imankan, ihsankan, istiqamahkan, takwakan, dan ikhlaskan hamba.”
Ya Allah, jadikanlah hamba umat Nabi Muhammad Rasulullah ﷺ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad.”
Kalimat syahadat ada dua, yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul. Keduanya disebut syahādatain, dua kalimat syahadat.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Kalimat syahadat tidak hanya diucapkan sekali. Ia hadir di setiap babak kehidupan seorang muslim, dari tangisan pertama sampai napas terakhir.
مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang akhir ucapannya Lā ilāha illallāh, ia masuk surga.”
HR. Abu Dawud
Perbarui ikrarmu malam ini. Selepas shalat Isya, ucapkan dua kalimat syahadat dengan pelan sambil meresapi artinya. Lanjutkan dengan doa Enam “I” dan shalawat. Lakukan setiap malam selama tujuh hari, lalu rasakan bedanya.
Bab 4
Lā ilāha illallāh adalah kunci surga. Kunci baru bisa membuka pintu bila geriginya lengkap.
Wahb bin Munabbih rahimahullāh pernah ditanya, “Bukankah Lā ilāha illallāh itu kunci surga?” Beliau menjawab:
“Benar. Akan tetapi, tidak ada kunci melainkan memiliki gerigi. Jika engkau datang membawa kunci yang bergerigi, pintu akan dibukakan untukmu. Jika tidak, pintu tidak akan dibukakan.”
Disebutkan Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-Jana’iz
Kunci Surga & Mengikis Karat 'Tapi Nanti Dulu'
UntungUstadz, tadi kunci motor saya nggak bisa diputar gara-gara geriginya berkarat dan aus satu. Padahal kuncinya sudah benar!
IdaEh, jangan-jangan iman kita selama ini juga begitu ya, Tung? Kita merasa sudah punya kunci Lā ilāha illallāh, tapi kenapa pintu ketenangan hati belum terbuka?
Ustadz NurTepat sekali, Nak Ida! Ulama tabiin Wahb bin Munabbih mengingatkan bahwa kunci Lā ilāha illallāh memiliki tujuh gerigi: Ilmu, Yakin, Ikhlas, Jujur, Cinta, Patuh (Al-Inqiyād), dan Menerima (Al-Qabūl).
Ustadz NurSering kali gerigi ke-6 dan ke-7 kita berkarat karena kita berkata: “Aku beriman kepada Allah, tapi soal perintah menutup aurat atau meninggalkan riba nanti dulu deh, belum siap.”
IdaAduh… rasanya seperti sedang berkaca! Ternyata alasan “belum siap dan tunggu hidayah” itu adalah karat yang menghalangi gerigi kepatuhan di hatiku sendiri. Aku mau membersihkan karat itu pelan-pelan, Ustadz!
Para ulama menjelaskan tujuh syarat Lā ilāha illallāh sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Anggaplah ketujuh syarat ini sebagai gerigi kunci, sementara lawannya adalah karat yang membuat kunci macet.
Memahami maknanya: menafikan semua ibadah kepada selain Allah dan menetapkan ibadah hanya kepada Allah.
Karatnya: kebodohanMeyakini kalimat Lā ilāha illallāh secara tegas, tanpa keraguan dan kebimbangan.
Karatnya: raguMenafikan segala syirik dan riya’ dengan memurnikan niat untuk Allah semata dalam seluruh ibadah.
Karatnya: syirik dan riya’Mengucapkannya dengan jujur dari hati, sejalan dengan ucapan lisannya.
Karatnya: dusta dan kemunafikanMencintai Allah, Rasul-Nya, agama Islam, dan kaum muslimin yang menjaga batasan-batasan Allah.
Karatnya: benci terhadap ajaran-NyaPatuh pada syariat Allah, taat pada hukum-Nya, dan pasrah kepada aturan-Nya.
Karatnya: enggan taatMenerima kalimat Lā ilāha illallāh dengan sebenar-benarnya, dengan hati dan lisan, beserta seluruh konsekuensinya.
Karatnya: menolakPeriksa gerigi kuncimu. Baca ketujuh syarat di atas pelan-pelan. Tandai satu gerigi yang menurutmu masih paling lemah, lalu jadikan itu doa khusus setelah shalat selama sepekan ini.
Bagian Tiga
Mesin penggerak amal
Amal adalah tubuh, niat adalah ruhnya. Tanpa ruh, tubuh hanya diam.
Bab 5
Dua orang bisa melakukan gerakan yang sama persis, tetapi pulang dengan hasil yang berbeda.
Rasulullah ﷺ membuka salah satu hadis teragung dalam Islam dengan sabdanya:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Dalam riwayat lain:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Hadis ini menjadi dasar penting dalam Islam bahwa seluruh amal dinilai berdasarkan niat yang menyertainya. Para ulama menjelaskan bahwa tidak ada amal tanpa niat. Setiap tindakan yang dilakukan dengan sadar pasti disertai tujuan dan kehendak dari pelakunya.
Dari potongan hadis ini kita memahami bahwa niat adalah amalan hati, bukan sekadar ucapan lisan. Karena itu, orang yang dipaksa mengucapkan kalimat kufur tidak dihukumi kafir selama hatinya tetap beriman dan tidak meniatkan kekufuran itu. Sebaliknya, seorang munafik tidak dianggap beriman di sisi Allah meskipun ia mengucapkan syahadat di depan banyak orang, karena hatinya kosong dari iman yang tulus.
Begitu pula orang yang memeluk Islam. Ia menghadirkan niat di dalam hati, mengucapkan syahadat dengan lisan, lalu membuktikannya dengan amal perbuatan. Para ulama menyatakan, “Niat adalah syarat sah setiap ibadah.” Maksudnya, niat yang tulus harus muncul dari hati saat memulai ibadah, bukan sekadar ucapan tanpa kehadiran hati.
Takut Dibilang Munafik atau Takut Kehilangan Ridha-Nya?
IdaUstadz, salah satu alasan terbesar saya ragu berhijab dan berubah adalah takut dikomentari teman-teman: “Ida sekarang sok alim, padahal masa lalunya begini-begitu, dasar munafik!”
UntungSaya juga sering kepikiran penilaian orang, Ustadz. Kadang mau berbuat baik takut dibilang pamer (riya’), tapi kalau nggak berbuat baik malah balik lalai lagi.
Ustadz NurDengarkan kaidah emas ini, Nak: meninggalkan amal kebaikan karena takut komentar manusia adalah jebakan setan, sedangkan beramal demi dipuji manusia adalah riya’.
Ustadz NurOrang yang sedang belajar taat lalu masih punya kekurangan bukanlah orang munafik, melainkan pejuang tobat! Selama niat di hati kalian murni mencari ridha Allah, komentar miring manusia justru menjadi penggugur dosa kalian.
IdaMasyaallah… jadi belajar berhijab dan memperbaiki diri meskipun belum sempurna itu bukan munafik ya, Ustadz! Selama niatku karena Allah, Allah sendiri yang menilai isi hatiku!
Niat adalah kehendak hati untuk melakukan atau mengatakan sesuatu. Bahkan sebelum seseorang mengerjakan amal, ia sudah bisa mendapatkan balasan sesuai niatnya. Karena itu sering disebutkan:
نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ
“Niat seorang mukmin lebih baik daripada amalnya.”
HR. Ath-Thabrani (sanadnya diperbincangkan para ulama)
Maknanya, niat seorang mukmin dapat terus mengalir di dalam hatinya meskipun amalnya belum atau tidak sempat terlaksana. Makna ini dikuatkan oleh hadis qudsi yang sahih:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَٰلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً…
“Sesungguhnya Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan, lalu menjelaskannya. Barang siapa berniat melakukan satu kebaikan namun belum mengerjakannya, Allah mencatat baginya di sisi-Nya satu kebaikan yang sempurna…”
HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu ‘Abbas
Seorang hamba bisa memperoleh pahala hanya dengan niat yang baik. Sebaliknya, amal yang tampak besar di mata manusia dapat kehilangan nilainya di sisi Allah bila disertai niat yang rusak, seperti riya’, kesombongan, atau mencari pujian. Maka seorang mukmin hendaknya menjaga niat dalam setiap aktivitas, bahkan dalam hal-hal mubah sekalipun, agar semuanya bernilai ibadah.
رُبَّ عَمَلٍ صَغِيرٍ تُعَظِّمُهُ النِّيَّةُ، وَرُبَّ عَمَلٍ كَبِيرٍ تُصَغِّرُهُ النِّيَّةُ
“Betapa banyak amal kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak amal besar menjadi kecil karena niat.”
Abdullah bin Al-Mubarak, dalam Az-Zuhd; dinukil Ibnu Rajab dalam Jāmi‘ al-‘Ulūm wal-Ḥikam
Dengan demikian, niat adalah ruh setiap amalan. Baik atau buruknya nilai suatu amal di sisi Allah sangat bergantung pada niat yang tersembunyi di dalam hati pelakunya.
Tingkatkan niat harianmu. Amal yang sama, pahala berlipat:
Bab 6
Bertolak dari hadis niat, kita bisa menyusun kerangka umum kehidupan.
…maka seluruh amalnya dinilai sebagai ibadah dan berpahala di sisi Allah.
…jika beruntung, ia hanya mendapat sebatas yang diniatkannya. Jika Allah tidak menghendaki, dunia pun meleset dan pahala ikut sirna. Wallāhul musta‘ān.
Niat adalah salah satu jenis ibadah, dan fungsinya ada dua:
Sama-Sama Lelah, Tapi Niat yang Menentukan Untung atau Buntung
Senin ini puasa ah… biar cepat kurus dan ngirit uang makan!
Aku juga mau berpakaian rapi dan sopan ah… biar dipuji elegan sama klien kantor!
Ustadz NurBismillah, Senin ini aku puasa sunnah karena Allah, dan berpakaian bersih untuk memuliakan syariat-Nya.
UntungWah, Da… ternyata kalau niat kita cuma buat dunia atau pujian orang, kita buntung besar karena kehilangan pahala akhirat!
IdaBetul, Tung! Padahal kalau diniatkan karena Allah, pahala akhirat dapat, ketenangan batin dapat, dan kebaikan dunianya tetap ikut terbawa!
Sama-sama lapar, sama-sama haus. Beda niat, beda nilai.
Di hari Senin, dua orang berpuasa. Yang satu berpuasa untuk diet, yang lain berpuasa sunnah. Di hari yang sama, dua orang lain juga berpuasa. Yang satu puasa sunnah, yang lain mengganti (qadha) puasa Ramadhan yang ditinggalkannya karena sakit. Apa yang membedakan mereka? Jawabannya sama: niat. Niat adalah syarat sahnya amalan sebagai ibadah kepada Allah, sekaligus pembeda satu jenis ibadah dengan ibadah lainnya.
Dalam hadis niat, Rasulullah ﷺ juga memberi teladan cara mengajar yang cerdas. Beliau memulai dengan penjelasan yang bersifat umum dan menjadi landasan: setiap amal tergantung niatnya, dan setiap orang mendapat sesuai yang ia niatkan. Setelah dua landasan itu dipahami, beliau menguatkannya dengan sebuah contoh, yaitu hijrah, agar umatnya dapat menerapkan kaidah itu pada berbagai perkara yang serupa.
Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىٰ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىٰ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai apa yang ia niatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya hanya kepada apa yang ia tuju.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Bab 7
“Mulailah dengan memperkuat pemahaman dasar sebelum membahas masalah.”
Itulah salah satu pelajaran cerdas dari hadis yang mulia ini. Dari sini kita memahami kesalahan mendasar yang menimpa sebagian penuntut ilmu. Mereka langsung menelaah berbagai masalah rumit yang diperdebatkan tanpa sabar memperkuat dasar keilmuannya. Akhirnya mereka bingung oleh dalil-dalil yang secara kasatmata tampak bertentangan. Keadaan itu tidak akan terjadi seandainya landasan ilmu mereka kokoh.
Belajar dari Fondasi & Kisah Perubahan Sayyidina Umar
IdaUstadz, bagi orang yang sudah lama jauh dari agama seperti saya dan Untung, kami sering bingung harus mulai belajar dari mana. Buka media sosial isinya orang berdebat terus…
Ustadz NurMulailah dari fondasi yang disepakati para ulama, Nak—seperti hadis-hadis pokok dalam ‘Umdatul Aḥkām yang dibuka dengan Hadis Niat riwayat Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu.
Ustadz NurLihatlah masa lalu Sayyidina Umar sebelum masuk Islam: betapa keras dan jauhnya beliau saat itu. Namun ketika hatinya tersentuh ayat Al-Qur’an, beliau tidak berdalih “aku sudah terlanjur jauh”—beliau langsung menjemput hidayah hingga menjadi khalifah yang mulia!
UntungMasyaallah… sekeras apa pun masa lalu kita, tidak ada kata “terlanjur jauh” bagi hamba yang mau kembali belajar dari dasar!
Tentang beliau, Imam Ibnu Katsir rahimahullāh berkata, “Semoga Allah merahmati Al-Hafizh Abdul Ghani. Beliau tokoh dalam bidang hadis dan para perawinya. Jarang didapati tokoh sezamannya yang memiliki kredibilitas setara dengannya.”
Karena isinya hadis-hadis sahih yang mencakup seluruh bahasan fikih, kitab ini menjadi rujukan yang sangat istimewa. Siapa pun yang membaca Aḍ-Ḍau’ al-Lāmi‘ li Ahli al-Qarn at-Tāsi‘ karya As-Sakhawi akan mendapati bahwa hampir seluruh ulama abad ke-9 H menghafal ‘Umdatul Aḥkām.
Hadis niat disampaikan dari Rasulullah ﷺ oleh sahabat mulia Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu ‘anhu.
Kuatkan dasarmu pekan ini. Hafalkan potongan hadis niat berikut. Hadis ini dijadikan pembuka oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya dan oleh Imam An-Nawawi dalam Al-Arba‘in.
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَىٰ
Bagian Empat
Melangkah walau lelah
Bila hijrahmu karena Allah, kamu akan terus melangkah walaupun sudah lelah.
Bab 8
Hijrah dan perubahan adalah dua hal yang selalu berjalan beriringan.
Hijrah yang disebutkan dalam hadis niat adalah salah satu jenis ibadah. Orang yang berhijrah tentu berpindah dari suatu keadaan menuju keadaan yang lain. Ketika berpindah, pasti ada berbagai perubahan yang bisa dirasakan dan diamati. Karena itu, hijrah dan perubahan selalu identik dan saling menguatkan.
Tujuan kedua jenis hijrah ini adalah terjadinya perubahan positif dalam keberagamaan seseorang. Karena itu, landasan dasarnya harus untuk meraih ridha Allah. Bila landasan ini keliru, bangunan yang didirikan di atasnya akan rapuh, bahkan bisa ambruk dan menjadi debu.
Ujian Hijrah: Ketika Teman Lama Menyindir & Menjauh
Ketika Untung mulai meninggalkan nongkrong malam yang melalaikan, dan Ida mulai membeli pakaian longgar serta kerudung untuk latihan menutup aurat, sindiran mulai berdatangan.
“Hahaha, lihat deh si Ida sama Untung! Kemarin masih bareng kita, sekarang mendadak sok suci! Palingan cuma tahan seminggu!”
UntungUstadz, hijrah itu ternyata capek dan sepi ya. Teman-teman lama mulai menjauh dan menertawakan kami…
IdaIya, Ustadz… Baru saja saya niat mau belajar berhijab, rasanya nyali saya langsung ciut mendengar omongan mereka.
Ustadz NurWajar lelah, Nak. Tapi bila hijrah kalian karena Allah, kalian akan terus melangkah walaupun sudah lelah.
Ustadz NurJangan tukar keselamatan akhirat kalian demi mempertahankan teman yang justru mengajak ke jurang. Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, pasti Allah gantikan dengan sahabat dan ketenangan yang jauh lebih baik!
IdaTerima kasih, Ustadz! Aku nggak mau lagi menyandera hidayahku cuma gara-gara takut omongan orang yang tidak bisa menolongku di akhirat!
UntungBismillah, Da! Biarlah kita lelah sebentar mendaki jalan taat, daripada lelah selamanya dalam penyesalan!
فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَىٰ مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya dinilai sebagai ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa berhijrah karena dunia yang ingin ia raih atau wanita yang ingin ia nikahi, ia hanya mendapat sesuai yang ia niatkan.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Hijrah kecil mulai hari ini. Pilih satu, kerjakan selama sepekan:
Bab 9
Dunia ini halte, bukan rumah. Jangan sampai kita lupa naik bus pulang.
Dunia adalah tempat yang Allah jadikan untuk menguji hamba-hamba-Nya, siapa di antara mereka yang terbaik amalnya. Semestinya, semakin tua usia sesuatu, semakin sedikit yang menggemarinya. Ternyata hal ini tidak berlaku untuk dunia. Justru semakin dekat hari kehancurannya, semakin rakus manusia mengejarnya. Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya tentang tanda-tanda hari kiamat:
وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبُنْيَانِ
“Dan engkau melihat orang-orang yang tadinya tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan menggembala kambing, berlomba-lomba meninggikan bangunan.”
HR. Muslim
Mengapa Mengejar Dunia Tak Pernah Membuat Hati Tenteram?
IdaUstadz, dulu saya pikir kalau sudah mengikuti tren kecantikan, belanja barang impian, dan dipuji banyak orang, hati saya bakal bahagia dan damai. Tapi kok begitu dapat, besoknya hampa lagi?
UntungPersis kayak minum air laut ya, Ustadz—makin diminum bukannya hilang hausnya, malah makin tenggorokan terbakar!
Ustadz NurKarena dunia ini hanyalah halte persinggahan, bukan rumah tujuan, Nak. Hati yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama pasti akan selalu gelisah takut kehilangan dan takut tersaingi.
Ustadz NurTetapi ketika kalian menjadikan akhirat sebagai tujuan pulang, dunia akan tunduk melayani kalian dengan penuh keberkahan dan hati pun menjadi tenteram.
Banyak orang mengeluh ketika kemiskinan menghampiri. Tidak sedikit yang menganggapnya musibah terbesar dalam hidup. Mereka lupa, atau mungkin tidak tahu, bahwa fitnah yang paling dikhawatirkan Rasulullah ﷺ menimpa umatnya bukanlah kemiskinan, melainkan saat kemegahan dunia telah menghiasi kehidupan mereka.
فَوَاللَّهِ لَا الْفَقْرَ أَخْشَىٰ عَلَيْكُمْ، وَلَٰكِنْ أَخْشَىٰ عَلَيْكُمْ أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَىٰ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
“Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan atas kalian. Akan tetapi, aku khawatir dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian berlomba-lomba meraihnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
Dunia memang sangat menggiurkan, tetapi ternyata ia tidak memiliki nilai yang luar biasa di dalam agama. Perhatikan hadis niat. Ketika Rasulullah ﷺ menyebutkan balasan bagi orang yang berhijrah karena dunia atau wanita, beliau tidak berkata, “maka ia akan mendapatkan dunia atau wanita itu.” Beliau cukup bersabda, “maka hijrahnya kepada apa yang ia tuju.” Tidak diulanginya kata dunia dan wanita memberi isyarat bahwa keduanya bukan hal penting untuk disebut ulang.
Berbeda ketika beliau menyebutkan balasan bagi yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya: “maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Pengulangan kata Allah dan Rasul-Nya mengisyaratkan kemuliaan keduanya.
“Jangan mengikuti mayoritas, tetapi ikutilah jalan kebenaran. Hiduplah di dunia ini layaknya seorang pengembara. Sesungguhnya kita hanyalah tamu di sini, dan setiap tamu harus segera pergi.”
“Kehidupan itu hanya dua hari: satu hari untukmu dan satu hari melawanmu. Saat ia untukmu, jangan bangga dan gegabah. Saat ia melawanmu, bersabarlah. Keduanya adalah ujian bagimu.”
Masyhur dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu
Akhirnya, semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita agar tetap lurus dalam niat, dan semoga Dia senantiasa menjaga kita dari segala fitnah, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.
Ukur kadar dunia di hatimu. Saat kehilangan sesuatu, tanyakan dengan jujur: aku lebih sedih kehilangan uang, atau kehilangan shalat berjamaah? Jawabannya akan menunjukkan arah hijrahmu berikutnya.
Bagian Lima
Tobat langkah demi langkah
Tobat bukan sekadar kata. Ia adalah langkah: berhenti, menyesal, bertekad, lalu memperbaiki.
Bab 10
Tobat nasuha bukan sekadar ucapan maaf. Ia adalah empat anak tangga yang dinaiki dengan sungguh-sungguh.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya (tobat nasuha), mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”
QS. At-Tahrim: 8
Berhenti total dari dosa yang ditobatkan, saat ini juga, bukan nanti.
Ada rasa bersalah yang tulus atas dosa itu, tanpa berputus asa dari rahmat Allah. Rasulullah ﷺ bersabda, النَّدَمُ تَوْبَةٌ, “Penyesalan adalah tobat.” (HR. Ibnu Majah dan Ahmad)
Bertekad tidak mengulanginya, tidak mudah tergoda, dan bersungguh-sungguh memperbaiki diri.
Jika dosa itu menyangkut hak orang lain, kembalikan haknya atau mintalah kerelaan (ridha) dari orang yang dirugikan.
Tiga anak tangga pertama berlaku untuk dosa antara hamba dan Allah. Anak tangga keempat ditambahkan bila dosa itu berkaitan dengan hak sesama manusia.
مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ
“Barang siapa bertobat sebelum matahari terbit dari barat, Allah pasti menerima tobatnya.”
HR. Muslim
Ikrarkan Sungguh-Sungguh!
Baca dengan suara pelan dan hati yang hadir
“Ya Allah, hamba berniat tobat nasuha karena Engkau semata. Ampunilah segala dosa dan kekhilafan hamba di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Ya Allah, ya Rabbi, terimalah tobat hamba.”
Tanggal: ……………
Empat Anak Tangga Menuju Damai yang Sejati
UntungUstadz, kami ingin tobat kami kali ini benar-benar tobat nasuha, bukan tobat sambal yang cuma pedas sebentar lalu diulangi lagi. Apa saja langkah nyatanya?
Ustadz NurNaikilah empat anak tangga ini dengan jujur: pertama, berhenti dari maksiat itu detik ini juga; kedua, menyesal dengan tulus; ketiga, bertekad kuat tidak kembali ke sana; dan keempat, tunaikan hak sesama manusia bila ada yang pernah terzalimi.
IdaAlhamdulillah… setelah mengikrarkan tobat nasuha dan membaca Sayyidul Istighfar dengan memahami artinya, beban gelisah yang bertahun-tahun menghimpit dadaku rasanya luruh satu per satu!
اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ، خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَىٰ عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوءُ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
Allāhumma anta rabbī lā ilāha illā anta, khalaqtanī wa ana ‘abduka, wa ana ‘alā ‘ahdika wa wa‘dika mastaṭa‘tu, a‘ūdzu bika min syarri mā ṣana‘tu, abū’u laka bini‘matika ‘alayya, wa abū’u bidzanbī faghfir lī, fa innahū lā yaghfirudz dzunūba illā anta.
“Ya Allah, Engkau Tuhanku, tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada di atas perjanjian dan janji-Mu semampuku. Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang telah kuperbuat. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku, dan aku mengakui dosaku, maka ampunilah aku. Sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.”
HR. Al-Bukhari. Siapa yang membacanya dengan yakin di siang hari lalu wafat sebelum sore, ia termasuk penghuni surga; demikian pula bila dibaca di malam hari.
Bab 11
Tobat membersihkan batin, bersuci membersihkan lahir. Allah mencintai keduanya.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
QS. Al-Baqarah: 222
Perhatikan, dalam satu ayat Allah menyandingkan orang yang bertobat (at-tawwābīn) dengan orang yang menyucikan diri (al-mutaṭahhirīn). Tobat adalah mandinya hati, sedangkan bersuci adalah tobatnya badan. Keduanya membuka pintu menuju shalat yang diterima.
لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ
“Tidak diterima shalat tanpa bersuci.”
HR. Muslim
Sebelum bersuci, mulailah dengan Bismillāhirraḥmānirraḥīm dan doa yang tulus: “Ya Allah, bersihkan dan sucikanlah lahir batin hamba.”
Mencuci Raga, Menyucikan Jiwa: Pentingnya Mandi Wajib & Wudhu
IdaUstadz, jujur selama saya jauh dari ilmu agama, tiap selesai haid saya cuma mandi dan keramas biasa tanpa tahu niat serta urutan mandi wajib yang benar…
UntungSaya juga dulu kalau mandi junub atau wudhu asal basah saja, Ustadz. Pantas saja shalat kami terasa hambar dan kurang khusyuk!
Ustadz NurTidak mengapa, Nak, yang lalu biarlah diampuni Allah, dan hari ini kita perbaiki ilmunya. Ingat, shalat tidak diterima tanpa bersuci yang sah.
Ustadz NurKetika kalian mandi wajib (baik setelah junub, haid, maupun nifas) dan berwudhu sesuai tuntunan Nabi ﷺ, air itu menyucikan raga sekaligus menggugurkan dosa-dosa kecil hingga wajah dan anggota wudhu kalian bercahaya di hari kiamat!
IdaAlhamdulillah, jelas sekali panduan 10 langkah mandi wajib dan wudhu di bab ini! Ternyata setiap selesai wudhu pun kita berdoa agar dijadikan golongan at-tawwābīn dan al-mutaṭahhirīn!
Kapan wajib mandi? Setelah keluar mani, setelah berhubungan suami istri (junub), setelah selesai haid, dan setelah selesai nifas.
Doa di Depan Cermin & Penjaga Hati Sepanjang Hari
IdaUstadz, dulu setiap kali bercermin saya cuma sibuk memikirkan gaya rambut dan riasan wajah. Tapi setelah membaca doa bercermin di bab ini: “Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku, maka baguskanlah akhlakku”, hati saya bergetar…
Ustadz NurItulah keajaiban doa harian, Nak Ida dan Nak Untung. Dari bangun tidur, masuk-keluar kamar mandi, bercermin, keluar rumah, hingga tidur kembali, doa-doa ini menjaga hati kalian agar tidak pernah lagi terputus dari Allah.
نَوَيْتُ رَفْعَ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Nawaitu raf‘al ḥadatsil akbari lillāhi ta‘ālā
Aku niat mandi wajib untuk menyucikan hadas besar karena Allah Ta‘ala.
نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنِ الْحَيْضِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Nawaitul ghusla ‘anil ḥaiḍi lillāhi ta‘ālā
Aku niat mandi wajib untuk menyucikan hadas besar haid karena Allah Ta‘ala.
نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنِ الْجَنَابَةِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Nawaitul ghusla ‘anil janābati lillāhi ta‘ālā
Aku niat mandi wajib untuk menyucikan hadas besar janabah karena Allah Ta‘ala.
نَوَيْتُ الْغُسْلَ عَنِ النِّفَاسِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Nawaitul ghusla ‘anin nifāsi lillāhi ta‘ālā
Aku niat mandi untuk menyucikan hadas besar nifas karena Allah Ta‘ala.
نَوَيْتُ الْوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَصْغَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Nawaitul wuḍū’a liraf‘il ḥadatsil aṣghari farḍan lillāhi ta‘ālā
“Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadas kecil, fardu karena Allah Ta‘ala.”
إِنَّ أُمَّتِي يُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يُطِيلَ غُرَّتَهُ فَلْيَفْعَلْ
“Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan wajah, tangan, dan kakinya bercahaya karena bekas wudhu. Maka barang siapa di antara kalian mampu memperpanjang cahayanya, hendaklah ia melakukannya.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhummaj‘alnī minat tawwābīna, waj‘alnī minal mutaṭahhirīna, waj‘alnī min ‘ibādikaṣ ṣāliḥīn.
“Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang menyucikan diri, dan jadikanlah aku termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh.”
Perhatikan: setiap selesai wudhu kita memohon dijadikan golongan at-tawwābīn, orang-orang yang bertobat. Artinya, tobat adalah doa yang kita ulang berkali-kali setiap hari!
Tidur dalam keadaan suci. Rasulullah ﷺ berpesan agar berwudhu sebelum berbaring di tempat tidur (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Jika malam itu ajal datang, kita pulang dalam keadaan suci dan bertobat.
Bab 12
Tiga ibadah untuk tiga keadaan hati: menyesal, berharap, dan bersyukur.
Tangis Pertama di Atas Sajadah yang Menghadirkan Kedamaian
Malam itu di tempat tinggal masing-masing, setelah berwudhu dengan sempurna, Untung dan Ida mendirikan Shalat Sunnah Taubat dua rakaat.
Untung“Ya Allah… bertahun-tahun aku mencari ketenangan di tempat yang salah. Malam ini hamba-Mu yang penuh dosa bersujud di pintu-Mu…”
Ida“Ya Rabbi… ampuni lisanku yang dulu sering menolak aturan-Mu dengan alasan belum dapat hidayah. Lembutkan hatiku untuk taat sepenuhnya kepada-Mu…”
IdaSubhanallah, Ustadz… waktu kening saya bersujud lama tadi malam dan menangis memohon ampun, untuk pertama kalinya dalam hidup, hati saya merasakan tenteram dan damai yang luar biasa!
Ustadz NurAlhamdulillah, itulah manisnya iman dan diterimanya rintihan hamba, Nak. Jaga kedamaian itu dengan Shalat Taubat saat khilaf, Shalat Hajat saat berharap, dan Sujud Syukur atas nikmat hidayah ini!
مَا مِنْ رَجُلٍ يُذْنِبُ ذَنْبًا، ثُمَّ يَقُومُ فَيَتَطَهَّرُ، ثُمَّ يُصَلِّي، ثُمَّ يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ، إِلَّا غَفَرَ اللَّهُ لَهُ
“Tidaklah seseorang berbuat dosa, lalu ia bangkit dan bersuci, kemudian shalat, lalu memohon ampun kepada Allah, melainkan Allah akan mengampuninya.” Kemudian beliau membaca ayat 135 dari surah Ali ‘Imran.
HR. At-Tirmidzi dan Abu Dawud, dari Abu Bakar Ash-Shiddiq (hasan)
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui.”
QS. Ali ‘Imran: 135
أُصَلِّي سُنَّةَ التَّوْبَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Uṣallī sunnatat taubati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā
Aku niat shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah Ta‘ala.
Surah setelah Al-Fatihah boleh diganti dengan surah lain yang dihafal.
أُصَلِّي سُنَّةَ الْحَاجَةِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَىٰ
Uṣallī sunnatal ḥājati rak‘ataini lillāhi ta‘ālā
Aku niat shalat sunnah hajat dua rakaat karena Allah Ta‘ala.
Shalat hajat dikerjakan dua rakaat, atau empat rakaat dengan dua kali salam. Setelah selesai, berdoalah kepada Allah dan sampaikan kebutuhanmu, sekecil apa pun kebutuhan itu.
“Hendaklah salah seorang di antara kalian memohon seluruh hajatnya kepada Rabbnya, hingga ia meminta garam, dan hingga ia meminta tali sandalnya ketika putus.”
HR. At-Tirmidzi
Sujud syukur dilakukan ketika mendapat nikmat atau terhindar dari musibah. Apabila datang kepada Rasulullah ﷺ suatu perkara yang menggembirakan atau kabar gembira, beliau tersungkur sujud sebagai tanda syukur kepada Allah (HR. Abu Dawud). Orang yang tobatnya diterima tentu punya alasan terbesar untuk bersujud syukur.
سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ
Subḥānallāh, wal-ḥamdu lillāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil ‘aẓīm.
“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Mahabesar. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.”
Paket tobat malam ini:
Bagian Enam
Menjaga untung tetap mengalir
Sedikit tetapi terus-menerus mengalahkan banyak tetapi sesekali.
Bab 13
Doa adalah sabuk pengaman tobat. Ia menjaga hati tetap tersambung kepada Allah dari bangun tidur sampai tidur lagi.
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling rutin dikerjakan, meskipun sedikit.”
HR. Al-Bukhari dan Muslim
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَحْيَانَا بَعْدَ مَا أَمَاتَنَا وَإِلَيْهِ النُّشُورُ
Alḥamdu lillāhil ladzī aḥyānā ba‘da mā amātanā wa ilaihin nusyūr
Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami setelah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya kami kembali.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ
Allāhumma innī a‘ūdzu bika minal khubutsi wal khabā’its
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan.
غُفْرَانَكَ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنِّي الْأَذَىٰ وَعَافَانِي
Ghufrānaka. Alḥamdu lillāhil ladzī adzhaba ‘annil adzā wa ‘āfānī
Aku memohon ampunan-Mu. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kotoran dariku dan menyehatkanku.
Lihat: bahkan doa keluar kamar mandi diawali permohonan ampun!
اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي
Allāhumma kamā ḥassanta khalqī fa ḥassin khuluqī
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah membaguskan rupaku, maka baguskanlah akhlakku.
بِسْمِ اللَّهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ، لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
Bismillāhi tawakkaltu ‘alallāh, lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh
Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.
بِسْمِ اللَّهِ وَلَجْنَا، وَبِسْمِ اللَّهِ خَرَجْنَا، وَعَلَى اللَّهِ رَبِّنَا تَوَكَّلْنَا
Bismillāhi walajnā, wa bismillāhi kharajnā, wa ‘alallāhi rabbinā tawakkalnā
Dengan nama Allah kami masuk, dengan nama Allah kami keluar, dan kepada Allah, Tuhan kami, kami bertawakal.
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ
Allāhummaftaḥ lī abwāba raḥmatik
Ya Allah, bukakanlah bagiku pintu-pintu rahmat-Mu.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ
Allāhumma innī as’aluka min faḍlik
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon karunia-Mu.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Allāhumma bārik lanā fīmā razaqtanā wa qinā ‘adzāban nār
Ya Allah, berkahilah rezeki yang Engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِينَ
Alḥamdu lillāhil ladzī aṭ‘amanā wa saqānā wa ja‘alanā muslimīn
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum, serta menjadikan kami orang-orang muslim.
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Rabbighfir lī wa liwālidayya warḥamhumā kamā rabbayānī ṣaghīrā
Ya Tuhanku, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil.
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَحْيَا وَبِاسْمِكَ أَمُوتُ
Bismika Allāhumma aḥyā wa bismika amūt
Dengan nama-Mu, ya Allah, aku hidup dan dengan nama-Mu aku mati.
Bab 14
Orang yang bertobat tidak ingin selamat sendirian. Ia mendoakan pasangan, anak, dan negerinya.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dzurriyyātinā qurrata a‘yun waj‘alnā lil-muttaqīna imāmā
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk hati, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Furqan: 74)
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Rabbi hab lī minaṣ ṣāliḥīn
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang termasuk orang-orang saleh. (QS. Ash-Shaffat: 100)
بِسْمِ اللَّهِ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
Bismillāh, Allāhumma jannibnasy syaiṭāna wa jannibisy syaiṭāna mā razaqtanā
Dengan nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa (keturunan) yang Engkau karuniakan kepada kami. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Puncak Haru: Ketika Ida Mantap Berhijab Menjemput Hidayah
Pagi itu di majelis ilmu, suasana mendadak hening penuh haru. Ida melangkah masuk dengan mengenakan hijab syar’i yang anggun dan menutup dada, wajahnya memancarkan ketenangan yang belum pernah terlihat sebelumnya.
IdaAssalamu‘alaikum, Ustadz Nur, Untung… Mulai hari ini, dengan menyebut nama Allah, aku tidak mau lagi bersembunyi di balik alasan “belum dapat hidayah”.
IdaDulu aku berkata “yang penting hatinya dulu dihijabi”. Sekarang aku paham: justru karena hatiku ingin taat dan dicintai Allah, maka ragaku pun tunduk mengenakan hijab sesuai perintah-Nya dalam QS. Al-Ahzab: 59!
UntungMasyaallah, alhamdulillah! Ikut terharu dan bangga melihatmu, Ida! Wajahmu kelihatan jauh lebih tenang dan bercahaya!
Ustadz NurAlhamdulillahilladzi bini‘matihi tatimmush shālihāt! Lihatlah penutup ayat hijab itu, Nak Ida: “Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” Allah menyambut langkah hijrahmu dengan ampunan dan kasih sayang, serta menjaga kehormatanmu dunia akhirat!
IdaBenar sekali, Ustadz… Ajaib rasanya! Begitu kain hijab ini menutup kepalaku dan dadaku karena Allah, rasa galau, gelisah, dan haus pujian manusia yang dulu menyiksaku langsung diganti Allah dengan rasa aman, tenteram, dan damai!
UntungDan sekarang, mari kita doakan kedua orang tua kita, calon keluarga kita agar menjadi qurrata a‘yun, serta negeri kita tercinta agar selalu diberkahi Allah!
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
QS. Al-Ahzab: 59
Perhatikan penutup ayat ini: Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Siapa pun yang baru memulai hijrah busananya tidak perlu malu dengan masa lalunya. Allah menyambutnya dengan ampunan.
اللَّهُمَّ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا مُجِيبَ دَعْوَةِ الْمُضْطَرِّ إِذَا دَعَاكَ، نَسْأَلُكَ أَنْ تُعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَنْ تُذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَأَنْ تُدَمِّرَ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَنْ تَجْعَلَ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا وَسَائِرَ بِلَادِ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ
“Ya Allah, Yang Maha Hidup lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya, Pemilik segala keagungan dan kemuliaan, Yang Maha Mengabulkan doa orang yang berada dalam kesulitan bila ia berdoa kepada-Mu. Kami memohon kepada-Mu agar Engkau memuliakan Islam dan kaum muslimin, menghinakan kemusyrikan dan orang-orang musyrik, menghancurkan musuh-musuh agama, dan menjadikan negeri ini serta seluruh negeri kaum muslimin aman dan tenteram.”
Bab 15
Bekal kecil untuk perjalanan panjang.
Mutiara hikmah berikut masyhur dinisbatkan kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallāhu ‘anhu. Kami menghadirkannya sebagai nasihat untuk direnungkan, bukan sebagai riwayat yang telah diteliti sanadnya.
Bintang Bersinar Paling Terang di Malam yang Gelap
IdaUstadz, kutipan hikmah ini menggambarkan perjalanan kami berdua: “Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu… Hanya di malam yang paling gelaplah bintang-bintang tampak bersinar lebih terang.”
Ustadz NurJadikan mutiara hikmah ini pengingat seumur hidup, Nak Untung dan Nak Ida: jangan pernah merasa kesepian di jalan kebenaran, sibukkan diri memperbaiki kekurangan sendiri, dan pilihlah sahabat sejati yang selalu mengingatkan kalian kepada Allah.
“Jangan merasa kesepian di jalan kebenaran hanya karena sedikitnya orang yang berada di sana.”
“Jangan biarkan hatimu berlarut-larut dalam kesedihan atas masa lalu, atau kamu tidak akan pernah siap menghadapi apa yang akan datang.”
“Berbahagialah orang yang kesalahannya sendiri menyibukkannya dari melihat kesalahan orang lain.”
“Jangan biarkan kesulitan membuatmu gelisah. Bagaimanapun juga, hanya di malam yang paling gelaplah bintang-bintang tampak bersinar lebih terang.”
“Firman Allah adalah obat bagi hati.”
“Memaafkan adalah kemenangan terbaik.”
“Aku tidak akan meninggalkan sunnah Nabi demi kepentingan siapa pun.”
“Orang yang pesimis melihat kesulitan di setiap kesempatan, sedangkan orang yang optimis melihat kesempatan di setiap kesulitan.”
“Banyak persoalan pelik yang berhasil diselesaikan dengan sikap murah hati.”
“Ada dua cara menjalani hidup yang menyenangkan: berada di dalam hati seseorang, atau berada di dalam doa seseorang.”
“Teman sejati adalah dia yang menasihatimu ketika melihat kesalahanmu, dan membelamu ketika kamu tidak ada.”
“Seorang teman belum bisa disebut teman sampai ia diuji dalam tiga kesempatan: saat kamu membutuhkannya, di belakangmu, dan setelah kematianmu.”
“Jika ingin menguji karakter seseorang, hormatilah dia. Jika karakternya baik, ia akan lebih menghormatimu. Jika buruk, ia akan merasa paling hebat.”
“Berhentilah membicarakan apa yang tidak kamu ketahui dan apa yang bukan urusanmu.”
“Lebih mudah mengubah gunung menjadi debu daripada menanamkan cinta di hati yang dipenuhi kebencian.”
“Rahasiamu adalah tawananmu. Jika kamu melepaskannya, kamulah yang menjadi tawanannya.”
Penutup
Perjalanan buku ini selesai. Perjalananmu baru dimulai.
Finale: Hati yang Tenteram dalam Pelukan Hidayah-Nya
Mentari pagi terbit menghangatkan halaman masjid. Tidak ada lagi wajah murung dan mata gelisah—yang tampak kini adalah ketenteraman iman di wajah Untung dan Ida.
UntungUstadz, dulu kami datang ke sini dengan dada sesak, galau, dan merasa sudah terlanjur jauh dari Allah. Sekarang aku paham: namaku Untung, dan tobat membuatku benar-benar untung!
IdaAku juga bersyukur tidak lagi menunda hidayah, Ustadz. Ternyata berhijab dan taat kepada Allah tidak mengambil kebahagiaanku—justru menghadiahkan rasa tenteram dan damai yang selama ini gagal kutemukan di luar sana!
Ustadz NurAlhamdulillah, Nak Untung, Nak Ida. Ingatlah selalu: tobat bukan perjalanan sekali jalan, melainkan nafas kita setiap hari. Setiap kali hati mulai goyah, cepatlah berwudhu, bersujud, dan pulang kembali kepada-Nya.
Untung & IdaBuat sahabat pembaca yang hatinya sedang galau, merasa terlanjur jauh dari iman, atau masih ragu menjemput hidayah: jangan tunggu nanti ya! Tobat yuk, pasti untung!
Pembaca yang dirahmati Allah, mungkin suatu hari kamu akan jatuh lagi. Tidak apa-apa. Pintu-Nya tetap terbuka, dan Dia lebih gembira menyambutmu daripada musafir yang menemukan kembali untanya. Bertobatlah setiap hari, sekecil apa pun langkahmu, karena tobat selalu untung.
Ikrar Penutup
Ya Allah, niat hamba bersyahadat:
Islamkan, imankan, ihsankan, istiqamahkan, takwakan, ikhlaskan hamba.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
Jadikanlah hamba umat Nabi Muhammad bin Abdullah, putra Aminah, Rasulullah ﷺ.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ
Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad
Centang yang sudah kamu kerjakan hari ini. Catatan ini hanya tersimpan di perangkatmu sendiri dan kosong kembali keesokan harinya, siap untuk hari baru.
0 / 7
Untung hari ini
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ
Subḥānakallāhumma wa biḥamdika, asyhadu allā ilāha illā anta, astaghfiruka wa atūbu ilaik
“Mahasuci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu. Aku bersaksi tiada tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan-Mu dan bertobat kepada-Mu.”
HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi
Daftar Pustaka
Di Balik Buku
Penulis dan Ketua Pembina Yayasan Amratulloh International Academy yang berkedudukan di Kabupaten Bogor, sekaligus penggagas Matematika Hijaiyyah. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengajak pembaca kembali kepada Allah dengan bahasa yang hangat, sederhana, dan mudah diamalkan.
Tobat Yuk, Pasti Untung! adalah edisi pembaruan dari karyanya, Jalan Tobat dan Raih Ampunan.
Lembaga penerbitan di bawah Yayasan Amratulloh International Academy, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. AMRA Publishing menerbitkan buku-buku keislaman dan pendidikan yang mencerahkan.
akademihijaiyyahindonesia.com